Pak Ahok, Saya Muslim! Saya Coba Bantu Anda Menengok Hati Melalui Al-Kitab

Oleh : Agus Mualif

Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pak Ahok, terus terang saya merasa aneh melihat Bapak menangis di depan Hakim. Namun tidak lama kemudian di grup WA saya mampir dua foto Bapak, yang pertama dirangkul seorang perempuan yang ternyata kakak angkat perempuan Bapak yang muslim dengan muka menunduk sedang muka Bapak kelihatan sangat sedih seperti menahan tangis, namun foto yang satu Bapak berdiri dengan berhadapan dengan tiga orang perempuan berhijab yang sedang tertawa yang salah satu wanita tersebut adalah kakak angkat Bapak. Dua foto diruangan yang sama pada hari yang sama dan saya kira dalam waktu yang hampir bersamaan pula. Dimuka Hakim Bapak juga merasa sangat penting menunjukkan persaudaraan angkat dengan orang bugis terpandang, yang hal itu justru membuat Bapak menuai protes dari beberapa tokoh Bugis, bahkan ada yang menuntut agar Bapak minta maaf.

Dari kejadian tersebut sepertinya Bapak menggunakan trik untuk mencoba meyakinkan kepada Hakim maupun masyarakat bahwa Bapak tidak bersalah, namun sayangnya beredar dua foto yang menunjukkan bahwa Bapak sebenarnya hanya berpura – pura menyesal dan bersedih. Oleh karena itu tangis Bapak dan upaya menunjukkan persaudaraan Bapak dengan muslim Bugis menjadi tidak ada manfaatnya. Sebenarnya untuk apa menunjukkan hal seperti itu apabila Bapak tidak menyesal dan merasa tidak bersalah. Mengapa Bapak tidak menghadapi masalah ini dengan wajah yang tegas dan mantap penuh keyakinan. Mengapa Bapak tidak menunjukkan sikap yang jujur dan apa adanya dengan segala resikonya. Bukankah Bapak adalah orang yang mempunyai kemantapan iman ? Bukankah Bapak pernah menceramahi orang tentang keimanan ?.

Oleh karena itu ijinkan saya yang muslim ini membantu Bapak menengok kedalam relung hati dengan membuat beberapa pertanyaan, yang dengan pertanyaan tersebut mudah – mudahan Bapak merenungkan apa saja yang telah Bapak lakukan. Dengan cara seperti itu Bapak dapat mulai mendengarkan kata hati Bapak. Mungkin saudara angkat muslim Bapak tidak dapat membantu membuat terang hati dan cerahnya pikiran Bapak. Mudah – mudahan Bapak mempunyai waktu untuk mencermati pertanyaan saya, karena semua point pertanyaan saya bersumber dari ayat – ayat Al – Kitab. Namun demikian saya harus jujur bahwa sebagai seorang muslim saya harus berhati – hati untuk menyusun pertanyaan ini agar tidak keliru menyusun kalimat sehingga saya dapat dituduh sebagai menista agama Bapak atau menista Al – Kitab. Saya yakin bahwa Bapak adalah penganut Kristen yang taat, sehingga saya tidak perlu menunjukkan pertanyaan tersebut berasal dari Surat apa, Pasal dan Ayat berapa, karena saya yakin bahwa ketika membaca pertanyaan ini Bapak dapat langsung menemukan ayat tersebut dalam Al – Kitab. Apabila Bapak kesulitan mencari ayatnya, Bapak bisa bertanya kepada Pendeta Bapak. Atau apabila karena suatu hal Bapak enggan bertanya kepada Pendeta Bapak, saya kira Bapak mempunyai cara untuk mencari saya, dan saya bersedia menemui Bapak untuk menunjukkan ayat – ayat tersebut.

Perlu Bapak ketahui bahwa saya menyusun pertanyaan ini bersumber dari Al – Kitab Cetakan Pertama yang dicetak oleh Percetakan Lembaga Al –Kitab Indonesia, yang diterbitkan tahun 1994, ISBN 979-463-019-5, IBS 10;INDO,TB052-NLXTI;5M-1994.

1. Ketika Bapak masih betul betul kuat, sudahkah kekuatan yang Bapak punyai “digunakan untuk menanggung beban orang yang lemah”. Ketika itu, apakah Bapak “ bersama teman – teman Bapak tidak mencari kesenangan sendiri, karena Kristus juga tidak mencari kesenangan – Nya sendiri “. Adalah fakta bahwa saat ini Bapak menerima cercaan. Bagaimanakah Bapak “menghindarkan diri dari cercaan, karena cercaan kepada Bapak juga mengena kepada Kristus”.

2. Bukankah Bapak diperintah untuk menjadi “orang yang bijak sehingga mewarisi kehormatan, sedang orang yang bebal akan menerima cemooh”. Bapak juga diperintahkan untuk “benci kepada kesombongan dan kecongkaan”, …. (pada ayat ini jujur saya tidak meneruskan bunyi ayatnya, karena saya masih percaya bahwa lanjutan ayat ini tidak pantas dijadikan bahan pertanyaan kepada Bapak karena bisa dianggap menyudutkan Bapak). Bapak juga mestinya juga mengetahui, “ ketika keangkuhan tiba, maka tiba pula cemooh, sedang hikmat ada pada orang yang rendah hati ”. Bapak juga diperintahkan untuk “ membuang mulut serong dan menjauhkan bibir yang dolak – dalik ”.

3. Bukankah Bapak diperintahkan untuk “ mengikuti jalan orang yang benar, karena jalan orang yang benar itu seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari, sedang jalan orang fasik itu seperti kegelapan, mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung. Jalan orang yang salih diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang yang fasik jatuh karena kefasikannya “. Bapak di perintahkan pula untuk mempedomani ayat “ Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut “.

4. Dalam sebuah tayangan video, Bapak begitu yakin dengan ke iman an Bapak, dan secara kasar seperti sedang memarahi orang lain tentang keimanaan. Bapak tidak takut kehilangan jabatan bahkan tidak takut kehilangan nyawa. Bapak dengan sangat mantap menyatakan akan mendapatkan rumah, makan dan masuk surga.

Terkait dengan itu, bukankah bila Bapak ingin memberikan kasih, maka “hendaklah kasih itu jangan berpura – pura, jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik “. “ Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri “. Bapak juga diperintahkan agar “hidup dengan sopan“…… “ Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu “…… “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan. Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung “…”Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang – orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah”.

5. Setiap umat agama apapun akan berusaha hidup dengan mencontoh dan meneladani kehidupan Rasulnya. Oleh karena itu, saya mengutipkan ayat untuk Bapak tentang perkataan Paulus ketika dipenjara. “Aku menghendaki, saudara – saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus”. Saya menunjukkan ayat ini kepada Bapak, agar Bapak teguh dalam keimanan Bapak, tidak memalukan agama Bapak dan umat Kristen lainnya. Jangan Bapak menghindarkan diri dari penjara dengan cara – cara yang memalukan, tetapi terimalah dengan penuh kehormatan.

Sebagai seorang muslim, saya ingin bergaul dan bergandengan tangan dengan kaum atau pemeluk agama apapun dengan cara – cara yang terhormat yaitu dengan menghormati keyakinan masing – masing, bukan melecehkan, menistakan atau dengan cara – cara mempermalukan pemeluknya, dan juga bukan dengan cara – cara memanfaatkan ketidak berdayaan umat beragama lainnya dalam bentuk apapun. Inilah esensi toleransi dalam beragama.

Saya berharap pertanyaan ini dapat membantu Pak Ahok untuk mendapatkan terangnya hati dan cerahnya pikiran.

822

Comments

Silakan Komentar