Eks Relawan Jokowi: Suka-Suka Yang Mulia Joko Widodo lah, Gak Boleh Dikritik Nanti Dituduh Ujaran Kebencian

Zonasatu.com – Semakin lama waktu yang dihabiskan Jokowi memerintah ternyata tidak kunjung membuatnya semakin mengerti bagaimana seharusnya memimpin bangsa yang besar ini. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa bangsa ini akan semakin maju atau setidaknya kembali kepada kondisi saat pemerintahan sebelumnya yang jauh lebih baik dari era sekarang. Minimal bangsa ini baik-baik saja, itupun sudah membuat kami rakyat ini sedikit punya harapan, tidak seperti sekarang kami kehilangan harapan yang entah kapan akan kembali.

Di era pemerintahan ini, kami dihadapkan pada sebuah situasi dan kondisi dimana negara ini seperti dipimpin dengan pola manajemen suka-suka. Suka-suka presiden, itulah gambaran yang kami tangkap dari semua kondisi ini. Suka-suka presiden membuat kebijakan, suka-suka presiden menandatangan keputusan yang kemudian dibatalkan sendiri atau dipertanyakan sendiri, suka-suka presiden mau ngutang ke mana-mana, suka-suka presiden mengangkat warga negara asing jadi pejabat, suka-suka presiden memerintahkan polisi menindak rakyat, suka-suka presiden bergaya bahkan merendahkan lembaga kepresidenan, suka-suka presiden makan di lingkungan istana, suka-suka presiden mengangkat relawannya di BUMN, suka-suka presidenlah semuanya. Dan suka-suka itupun tidak boleh dikritik karena nanti dituduh sebagai ujaran kebencian.

Ketika ekonomi, politik dan hukum sebagai 3 atmosfer utama yang harus baik ternyata berada dalam keadaan tidak baik, maka sepatutnya dan wajar jika ada yang menyampaikan kritik dan penilaian serta pendapat. Jika presiden memuji keberhasilannya memimpin Indonesia secara ekonomi, maka wajar pula jika ketika dalam waktu bersamaan JP MORGAN memberikan penilaian buruk. Kenapa perbedaan penilaian itu direaksi berlebihan? Ahh suka-suka kau ajalah presiden. Sewajarnyalah penilaian terhadap diri sendiri harusnya bersumber dari pihak lain bukan diri sendiri memuji diri.

Presiden kami Yang Mulia Joko Widodo, bangsa ini dimerdekakan bukan dengan suka-suka para pendiri bangsa, tapi dimerdekakan dengan darah dan nyawa serta harta yang tak ternilai. Bangsa ini dimerdekakan adalah tujuan utamanya supaya kita mengelola diri sendiri, supaya berdaulat dan apa yang dimiliki bangsa ini adalah untuk orang Indonesia. Sehingga ketika isu serbuan tenaga kerja ilegal cina merebak, itu karena rakyat bangsa ini tidak ingin haknya diambil bangsa asing. Bukan karena ingin menebar berita ilegal atau hoax menyerang pemerintah. Tapi kembali, suka-suka kau ajalah menyuruh polisi menindak rakyat dengan tuduhan menebar hoax.

Bangsa ini hampir mendekati frustrasi, dan mungkin hanya kegilaan yang bisa menerima situasi ini dengan diam. Kami tidak mungkin diam ketika negara dikelola secara serampangan karena kami belum gila. Kami juga tentu tidak akan membisu ketika hak-hak rakyat diambil bangsa asing bersama-sama pemerintah kecuali kami sudah gila. Lapangan kerja dirampas tenaga kerja ilegal, pendapatan kami diambil paksa sebagian atas nama pajak dan tax amnesty. Kami tidak akan diam kecuali kami sudah gila.

Sepertinya percuma bicara panjang lebar karena pendukung presiden akan menganggap kami gila dan presiden mungkin akan menganggap kami ancaman bagi kekuasaan. Ahh sudahlah… suka-suka kau ajalah Presiden… atau mungkin kita perlu sama-sama memeriksakan kejiwaan?

Jakarta, 08 Januari 2017

Penulis: Ferdinand Hutahaean (Eks Relawan Jokowi)

(zs)

50

Comments

Silakan Komentar